Tampilkan postingan dengan label islami (sumber: catatan kuliah akhlak tasawuf. uin jakarta). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami (sumber: catatan kuliah akhlak tasawuf. uin jakarta). Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2009

Raja Dengan Penunggang Singa



Kisah ini menceritakan tentang seorang sultan yang bernama Abu Faris Syah Al-Karmani. Pada suatu hari baginda keluar berburu bersama-sama dengan pengawal-pengawal baginda. Semasa baginda merayau mencari binatang buruan, tiba-tiba terlintas binatang di hadapan baginda. Tanpa membuang masa, baginda mengejar binatang tersebut sehinggalah baginda sampai ke suatu kawasan tanah lapang. Baginda tidak menyedari bahawa pengawal-pengawal tidak bersamanya semasa baginda mengejar binatang tersebut.

Sambil mencari binatang yang dikejarnya tiba-tiba muncul seorang pemuda menunggang seekor singa yang sangat besar. Bersama-samanya terdapat dua ekor singa lagi mengiringi pemuda tadi. Melihat singa-singa tersebut baginda sangat takut dan cuba hendak lari tetapi tidak berjaya kerana kakinya tidak terdaya untuk melangkah. Pemuda itu menghampiri baginda dan memberi salam. Baginda menjawab salam pemuda itu. Pemuda itu berkata "Wahai Abu Syah, kenapakah tuanku sangat lalai kepada Allah Taala, tuanku sangat mengutamakan dunia daripada akhirat, tuanku sangat kasih kepada dunia dan sangat lalai kepada Allah Taala".

Baginda sangat heran tentang tingkah laku pemuda ini karena semenjak baginda memerintah tidak ada yang berani berkata demikian kepadanya. Baginda tidak dapat berbuat apa-apa lidahnya kelu tidak dapat berkata-kata. Pemuda itu menyambung lagi " Tahukah tuanku bahawa dunia yang dikurniakan oleh Allah adalah sebagai suatu jalan untuk berkhidmat kepadaNya dan bukan untuk bersenang-senang sehingga melalaikan diri" Pemuda itu terus memberi nasihat pada sultan Abu Syah sehingga pemuda itu berasa penat. Tidak lama kemudian muncul seorang perempuan tua membawa secerek air dan diberikan kepada pemuda itu. Setelah selesai meminumnya pemuda itu menawarkan air itu kepada baginda seraya berkata "Minumlah air ini, airnya sungguh nikmat". Baginda mengambil air itu dan terus meminumnya, dan ternyata air itu sungguh nikmat seperti yang dikatakan oleh pemuda itu. Selesai minum baginda menyerahkan kembali cerek air itu kepada perempuan tadi dan tiba-tiba perempuan telah hilang dari pandangan mata.

Baginda sungguh heran melihat keajaiban yang terjadi lalu bertanya kepada pemuda itu "Siapakah perempuan itu, sungguh ajaib sekali ia muncul dengan tiba-tiba dan hilang juga dengan tiba-tiba". Sambung baginda lagi "Katakan kepada ku siapakah perempuan itu dan ke manakah dia pergi?". Pemuda itu menjawab "Dia telah kembali ke tempat asalnya" Baginda tidak faham apa yang dikatakan oleh permuda itu. "Beritahulah siapa sebenarnya perempuan itu" kata baginda. Pemuda itu menjawab "Dia adalah dunia, yang dijelmakan oleh Allah untuk memberi khidmat kepada ku dan dia akan muncul pada bila-bila masa apabila aku memerlukanya" Pemuda itu berkata lagi " Tidakkah tuanku mendengar Allah berfirman: wahai dunia, sesiapa yang berkhidmat kepada Ku, hendaklah kau berkhidmat kepadanya dan siapa yang berkhidmat kepada mu, maka tunggangilah dia".

Selepas berkata-kata pemuda itu terus berlalu dari situ. Sultan Abu Syah masih lagi terpaku disitu seoleh-olah tidak percaya apa yang telah berlaku dan adakah ia sedang bermimpi. Tidak lama kemudian, pengiring-pengiring Sultan Abu Syah datang mencari baginda. Semenjak dari peristiwa itu Sultan Abu Syah memikirkan apa yang telah terjadi dan tidak lama kemudian Sultan Abu Syah turun dari takhta dan menyerahkan pemerintahan kepada saudaranya. Baginda telah bertaubat dan terus mengembara untuk lebih mengenali Allah sehinggalah baginda menjadi hamba yang soleh.

Selasa, 27 Januari 2009

Tentang Akhlak (Bag 2)

Manusia adalah makhluk yang Dhaif, dikarenajan keimanannya yang fluktuatif (naik-turun). Keimanan manusia yang erat dengan ruhaniahnya. Dalam arti ketika ruhaninya mengalami peningkatan, kemimananya pun juga mengalami peingkatan. Dinamika ruhani tergantung bagaimana daya-daya ruhani tersebut menjalankan fungsinya. Ketika ruhani manusia itu bersih maka akan menjadikan akalnya menimbang sesuai dengan ketentuan Allah. Akal tidaklah bekerja sendiri karena ada hati yang memilih. Dimana hati ketika suci ia akan mendapat pencerahan dari Allah SWT. Kemudian bagaimanakah terbentuknya sebuah Akhlak?. Akhlak terbentuk diawali dengan niat. Kita sudah membicarakan niat bermula dari sebuah ide, yang kemudian menguat menjadikan sebuah Azam(tekat kuat) hingga ia menjadi niat. Saya akan gambarkan dalam sebuah bagan bagaimana sebuah niat menjadi sebuah akhlak.

Niat => Perilaku => Kebiasaan => Akhlak

Dari bagan diatas bisa tuliskan hal itu bermula dari sebuah wacana ke dekonstruksi menuju rekronstruksi, dari sebuah niat ia lakukan sehingga menjadikan sebuah perilaku. perilaku dilihat dari kuantitas masih lemah. Ketika kuantitasnya dinaikkan maka hal itu akan menjadikan sebuah kebiasaan. Walaupun kuantitas sudah baik namun secara kualitas belum. Maka ketika kualitasnya dinaikan hal itu menjadi sebuah akhlak. Paatokan ia sudah menjadi sebuah akhlak adalah ketika ia sudah merasa nikmat menjalankan perintah Allah dan berat untuk meninggalkannya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Paling dekat dengan aku (rasulullah) kedudukannya pada had kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Ar-Ridha)

Mengenai bisikan batin bisa dijelaskan ketika manusia hendak melakukan sesuatu hal maka akal bekerja menimbang baik dan buruk. Dari akal kemudian hati (al qalb) lah yang berperan itu akan dilakukan atau tidak. Ketika Allah yang kuat dihatinya maka ketika hal itu bertentangan perintah Allah SWT itu tidak akan dilakukan. Namun manusia memiliki musuh yang tidak terlihat nafsu dan syetan. Ketika syetan membujuk manusia dan nafsunya juga mendorongnya maka ia akan melakukan sagala hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Ditulis oleh: Agus Setyadi H.

Tentang Akhlak (Bag 1)

Kata “Akhlak” berasal dari bahasa Arab, jamak dari Khuluqun yang menurut bahasa artinya adalah budi pekerti, perangai, tingkah laku. Kata-kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan kata khulqun yang berarti kejadian, juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta. Demikian juga dengan makhlukqun yang berarti yang diciptakan. Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tertanam didalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tdak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Sedangkan Prof. Dr. Ahmad Amin menjelaskan akhlak ialah kehendang yang dibiasakan. Artinya adalah kehendak itu bila dibiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak. Meskipun kita melihat definisi akhlak berbeda-beda namun maknanya adalah sama. Proses pembentukan berawal dari suatu wacana menuju dekonstruksi kemudian menjadi rekrontruksi jika digambarkan kedalam suatu bagan seperti dibawah ini:

Ide => Kecenderungan => Keinginan kuat => Perilaku

Saya akan memberikan contoh shalat subuh berjamaah. Dalam shalat subuh berjamaah, tidak sembarang orang dapat melakukannya, seperti shalat jumat. Oleh karenanya ada beberapa ungkapan ketika kita ingin melihat berapa banyak kaum Muslim lihat pada shalat jum’at. Namun ketika kita igin melihat berapa banyak orang Mu’min, lihat pada shalat subuh di masjid. Sebelum menjadi akhlak, ia akan berwujud ke perilaku dahulu barulah ketika perilaku sudah baik akan meningkat lagi kearah kebiasaan. Ketika seseorang ingin melakukan shalat subuh berjamaah akan muncul ide terlebih dahulu. dari sebuah ide muncul kecendrungan yang akhirnya menjadi sebuah keinginan yang kuat. Dari keinginan yang kuat, ia berazzam dalam hatinya sehingga menimbulkan suatu yang bernama Niat. Dari niat yang semakin mantap sehingga menjadi sebuah perilaku. Dalam hadis disebutkan :

“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’(Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)

Ditulis oleh: Agus Setyadi H.